Keadilan yang Tergadai: Kemewahan VIP Bagi Kriminal di Lapas Cibinong
Amarullah M. Zawawi
Tigis Artikel · 28 September 2026
Keadilan yang
Tergadai: Kemewahan VIP Bagi Kriminal di Lapas Cibinong
Oleh: Amar
MZ -Penyuluh Antikorupsi
Perjuangan melawan korupsi tak
melulu soal mencegah suap atau menghukum pelakunya. Perjuangan ini juga
mencakup memastikan bahwa konsekuensi hukum yang dijatuhkan benar-benar
diterapkan secara adil. Salah satu isu yang sering kali muncul dan cukup meresahkan
adalah maraknya laporan mengenai fasilitas mewah atau status 'VIP' bagi
narapidana tertentu di dalam lembaga pemasyarakatan. Fenomena ini, dikaitkan
dengan Villa di Lapas Cibinong, memperlihatkan betapa rapuhnya sistem keadilan
kita ketika berhadapan dengan kekuatan uang. Hal ini membuat kita merenungkan
kembali, mengapa beberapa orang tampaknya bisa melampaui penderitaan yang
seharusnya mereka jalani.
Ketika kita membahas fasilitas
"VIP" di dalam lapas, ini bukanlah sekadar isu kenyamanan. Ini adalah
bukti adanya ketidaksetaraan yang fundamental dalam sistem peradilan kita.
Laporan-laporan sering menggambarkan sel-sel yang diubah sedemikian rupa dengan
fasilitas seperti pendingin ruangan, akses komunikasi yang tidak terbatas,
hingga ruang pribadi yang nyaman. Sangat jelas bahwa modifikasi seperti ini
tidak seharusnya ada. Ini adalah kenyamanan yang tak semestinya ada. Ketika
seorang narapidana, apalagi pelaku korupsi yang kekayaannya mungkin hasil
kejahatan, dapat menciptakan kehidupan yang nyaman di penjara, esensi dari
hukuman itu sendiri hilang. Hukuman tampaknya hanya menjadi formalitas belaka,
sejenis 'pajak' kecil untuk kejahatan besar yang mereka lakukan.
Penting untuk diingat bahwa
fenomena ini bukanlah kegagalan individu semata. Ini tidak hanya terjadi karena
keinginan narapidana, tetapi juga menunjukkan kerentanan dalam administrasi
penjara itu sendiri. Sepertinya cukup jelas bahwa fasilitas semacam itu tidak
mungkin ada tanpa sepengetahuan atau bahkan keterlibatan oknum petugas bahkan
pimpinan. Ini adalah contoh korupsi serius yang mampu membuat kerusakan
sistemik yang sangat besar. Ketika petugas lapas dapat disuap atau ditekan
untuk memberikan keistimewaan, hal itu mengikis integritas seluruh institusi.
Integritas sistem penegakan hukum kita, dari polisi hingga sipir, adalah
benteng utama kita melawan korupsi. Ketika benteng itu sendiri bocor, penegakan
hukum terasa sia-sia.
Dampak dari ketidaksetaraan ini
sangat mendalam. Pertama, hal itu meruntuhkan kepercayaan publik terhadap
sistem peradilan. Masyarakat yang berjuang untuk jujur dan mematuhi hukum
merasa dikhianati ketika melihat para elit yang bersalah tetap menikmati
kemewahan, bahkan ketika sedang "dihukum." Hal ini mengirimkan pesan
yang sulit kepada publik: bahwa jika Anda cukup kuat dan kaya, Anda bahkan bisa
'mencurangi' keadilan. Ini adalah sebuah langkah mundur yang signifikan dalam
upaya membangun budaya antikorupsi. Ketika penegakan hukum tampak selektif, rasa hormat terhadap hukum menurun,
dan hal ini dapat memicu sikap apatis atau bahkan pembangkangan sosial di
masyarakat.
Kedua, fasilitas mewah ini
menghambat proses rehabilitasi yang sesungguhnya. Penjara seharusnya menjadi
tempat perenungan dan perbaikan diri. Ketika narapidana diizinkan untuk
mempertahankan gaya hidup lama dan privilese mereka, mereka tidak didorong
untuk menghadapi konsekuensi perbuatan mereka secara jujur. Rehabilitasi tidak
akan efektif jika narapidana dibiarkan merasa bahwa mereka tetap 'spesial' dan
hukum tidak berlaku sepenuhnya bagi mereka. Mereka tidak belajar untuk
bertanggung jawab, melainkan belajar bahwa uang masih bisa membeli segala hal,
bahkan kebebasan semu di balik jeruji besi.
Tampaknya cukup jelas bahwa
diperlukan transparansi yang jauh lebih besar dalam pengelolaan lembaga pemasyarakatan.
Kita tidak bisa hanya mengandalkan inspeksi dadakan yang sering kali hasilnya
sudah bisa diprediksi. Diperlukan pengawasan independen yang kuat, pelibatan
masyarakat sipil, dan penegakan etika yang tanpa kompromi bagi petugas lapas.
Fokusnya tidak boleh hanya pada menghukum narapidana yang kedapatan memiliki
fasilitas mewah, tetapi lebih pada mereformasi sistem yang memungkinkan hal
tersebut terjadi. Ini tentang membangun layanan koreksional di mana integritas
benar-benar tidak memiliki label harga.
Pangkalpinang
28 September 2026
Penilaian Pembaca
Seberapa bermanfaat tulisan ini bagi Anda?
Tanggapan Pembaca (0)
Masuk dulu untuk ikut menanggapi tulisan ini.
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama.